By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.
Sejak pawai anak-anak yang meneriakkan 'bunuh Ahok' itu, benak saya susah lepas dari anak-anak Ahok sendiri. Pertanyaan saya sederhana saja : " Bagaimana perasaan ketiga anak Ahok mendengar itu semua ?"
Adakah yang memikirkan - setidaknya untuk saat ini - jiwa mereka adalah jiwa anak-anak yang paling tertekan di republik ini. Ayahnya dinistakan dan dipenjara. Lalu harus melihat ibu yang mereka cintai menangis di layar kaca dengan hati remuk. Dan terakhir harus mendengar teriakan bunuh ayahnya - yang dilakukan oleh anak-anak sebaya mereka.
Bisakah kalian bayangkan jika itu terjadi pada anak kalian ? Siapa yang akan melindungi dan menjaga jiwa dan hati dari anak-anak Ahok ? Seolah republik ini memusuhi keluarga mereka. Seperti simpati saya pada anak-anak yang jiwanya diukir kebencian dan dengan fasih meneriakkan kata 'bunuh' - sebesar itu pula simpati saya untuk anak-anak Ahok.
Sejak pawai anak-anak yang meneriakkan 'bunuh Ahok' itu, benak saya susah lepas dari anak-anak Ahok sendiri. Pertanyaan saya sederhana saja : " Bagaimana perasaan ketiga anak Ahok mendengar itu semua ?"
Adakah yang memikirkan - setidaknya untuk saat ini - jiwa mereka adalah jiwa anak-anak yang paling tertekan di republik ini. Ayahnya dinistakan dan dipenjara. Lalu harus melihat ibu yang mereka cintai menangis di layar kaca dengan hati remuk. Dan terakhir harus mendengar teriakan bunuh ayahnya - yang dilakukan oleh anak-anak sebaya mereka.
Bisakah kalian bayangkan jika itu terjadi pada anak kalian ? Siapa yang akan melindungi dan menjaga jiwa dan hati dari anak-anak Ahok ? Seolah republik ini memusuhi keluarga mereka. Seperti simpati saya pada anak-anak yang jiwanya diukir kebencian dan dengan fasih meneriakkan kata 'bunuh' - sebesar itu pula simpati saya untuk anak-anak Ahok.
Negeri ini telah gagal melindungi jiwa anak-anak kecil itu dari intimidasi. Rasa aman yang menjadi hak dasar jiwa-jiwa mungil itu tak bisa diberikan oleh republik ini.
Sebagai seorang ayah - saya tahu hati ketiga anak itu menangis pedih mendengar ancaman terhadap Ahok - ayah mereka itu. Saya paham - jika memungkinkan - mereka akan berontak untuk membela ayahnya. Anak mana yang rela ayahnya dinistakan dan diancam begitu rupa ?
Saya percaya mereka diam bukan karena takut - sebab jika menyangkut martabat dari orang tercinta - setiap orang akan mencadangkan hidupnya. Saya pernah merasakannya di kampung saya di Malang ketika masih kecil. Keluarga saya juga minoritas ganda yang hidup di sebuah gang padat. Saya bukan tukang berkelahi, saya bukan jagoan - namun ketika ayah yang saya cintai diancam dan terancam - saya melawan orang-orang itu dengan tongkat kakek saya. Dan saya tak mempedulikan diri saya lagi.
Namun ketiga anak Ahok tak berdaya karena negerinya tak sedang duduk di sisi mereka. Mereka tak melawan karena bangsanya tak sedang memeluk mereka.
Tapi tentu hati mereka merintih. Kemarin saya menulis bahwa hati anak-anak Ahok juga mengucur darah - dan kejadian demi kejadian memojokkan seperti inilah yang merobek hati mereka.
Ya bunda pertiwi, anak-anak Ahok itu adalah anak-anakmu juga. Mereka lahir dari rahimmu, dan tumbuh di tanahmu. Mereka mencintaimu sesuai ajaran dan teladan dari ayah bundanya. Tapi pada akhirnya tikaman demi tikaman terus menyayat hati mereka - yang seharusnya layak menjalani hari harinya penuh ceria, aman dan damai.
Bunda republik, tak inginkah kau memeluk mereka ? Tak tergerakkah hatimu untuk mendekap ketiganya, agar sejenak saja mereka merasakan damai ?
Jika kalian enggan, biarkan aku yang memeluk mereka. Setidaknya, aku akan biarkan hatiku memeluk ketiga anak yang manis dan baik itu dari sini. Agar sejenak mereka bisa merasa damai, dan setidaknya hati mereka bisa berbisik - bahwa mereka tak sendiri.
Aku besertamu anak-anak malang, hatiku bersama kalian dan mendekap kalian.















