By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.
Puncak-puncak kesakitan dan penderitaan sudah dilewati, maka gantilah air mata kepedihan itu untuk membasuh jiwa.
Suamimu sudah dihempaskan sampai titik terendah, tak ada titik lain yang lebih rendah. Maka gantilah air mata kepedihan itu untuk membersihkan hati.
Kehidupan yang kalian jalani - khususnya suamimu - tak banyak dilalui orang lain. Itu adalah jalan sunyi. Sendiri di jalan itu. Tak banyak orang mau dan sanggup di jalan itu. Namun dalam kesunyian dan kesendirian itu sesungguhnya terselip gemuruh doa dan cinta dari banyak orang yang pernah dibela dan dilayani oleh suamimu.
Bahkan sesungguhnya kehidupan sedang meminta kerelaan suamimu, dirimu serta anak-anakmu untuk berkorban bagi tanah yang kalian pijak, bagi rahim pertiwi yang melahirkan kalian. Maka sesungguhnya kalian adalah yang terpilih, sebab kehidupan tahu - tak banyak yang rela dan sanggup melewati jalan sunyi seperti kalian.
Kehidupan juga sedang mengajak segenap anak negeri ini belajar dari kalian. Bahwa hidup bukan soal meminta dan mengambil dari ibu pertiwi, melainkan memberi dan menyerahkan.
Maka gantilah air mata kepedihan itu menjadi air mata syukur. Sebagai perempuan biasa, tentu tak mudah menghapus duka, pedih dan rindu itu. Tapi ingatlah, segenap anak negeri yang mengirimkan gemuruh doa dan cinta menatapmu sebagai perempuan, istri dan ibu yang perkasa dan mulia.
Tak sadarkah dirimu bahwa keputusan mulia suamimu untuk mengampuni, mundur dan mengembalikan uang operasional haknya - separuh karena dirimu ? Sebab kamu adalah belahan jiwanya. Dan dalam diam, sepi dan dukanya - kepada belahan jiwa itulah dia berdialog.
Tetaplah menjadi Vero yang dirindukan Ahok suamimu. Tetaplah menjadi Vero yang ditatap sekian banyak rakyat sembari mengirimkan gemuruh doa dan cinta. Tetaplah menjadi Vero sebagai simbol perempuan perkasa yang tanpa sadar sering membangkitkan banyak perempuan lain dari keterpurukannya.
Jangan menangis lagi, Vero...
Puncak-puncak kesakitan dan penderitaan sudah dilewati, maka gantilah air mata kepedihan itu untuk membasuh jiwa.
Suamimu sudah dihempaskan sampai titik terendah, tak ada titik lain yang lebih rendah. Maka gantilah air mata kepedihan itu untuk membersihkan hati.
Kehidupan yang kalian jalani - khususnya suamimu - tak banyak dilalui orang lain. Itu adalah jalan sunyi. Sendiri di jalan itu. Tak banyak orang mau dan sanggup di jalan itu. Namun dalam kesunyian dan kesendirian itu sesungguhnya terselip gemuruh doa dan cinta dari banyak orang yang pernah dibela dan dilayani oleh suamimu.
Bahkan sesungguhnya kehidupan sedang meminta kerelaan suamimu, dirimu serta anak-anakmu untuk berkorban bagi tanah yang kalian pijak, bagi rahim pertiwi yang melahirkan kalian. Maka sesungguhnya kalian adalah yang terpilih, sebab kehidupan tahu - tak banyak yang rela dan sanggup melewati jalan sunyi seperti kalian.
Kehidupan juga sedang mengajak segenap anak negeri ini belajar dari kalian. Bahwa hidup bukan soal meminta dan mengambil dari ibu pertiwi, melainkan memberi dan menyerahkan.
Maka gantilah air mata kepedihan itu menjadi air mata syukur. Sebagai perempuan biasa, tentu tak mudah menghapus duka, pedih dan rindu itu. Tapi ingatlah, segenap anak negeri yang mengirimkan gemuruh doa dan cinta menatapmu sebagai perempuan, istri dan ibu yang perkasa dan mulia.
Tak sadarkah dirimu bahwa keputusan mulia suamimu untuk mengampuni, mundur dan mengembalikan uang operasional haknya - separuh karena dirimu ? Sebab kamu adalah belahan jiwanya. Dan dalam diam, sepi dan dukanya - kepada belahan jiwa itulah dia berdialog.
Tetaplah menjadi Vero yang dirindukan Ahok suamimu. Tetaplah menjadi Vero yang ditatap sekian banyak rakyat sembari mengirimkan gemuruh doa dan cinta. Tetaplah menjadi Vero sebagai simbol perempuan perkasa yang tanpa sadar sering membangkitkan banyak perempuan lain dari keterpurukannya.
Jangan menangis lagi, Vero...
