Herry Tjahjono - AHOK ITU SUDAH HABIS, TAHU...

By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.
Hari ini - masih ada lagi beberapa orang yang memburu saya dengan pertanyaan : " Anda masih saja menulis tentang Ahok. Dia sudah habis, sudah selesai tahu..."
Saya jawab :
Jika ukuran yang dipakai adalah bungkus kehidupan, kemasan kehidupan - maka Ahok untuk saat ini sudah habis. Sebab kursi DKI 1, jabatan gubernur adalah bungkus atau kemasan kehidupan. Sensasi. Landasannya adalah kemenangan. Dan seandainya Ahok menang dan ukuran bungkus ini yang dipakai - mungkin saya tak akan menulisnya lagi. Tak banyak hal berguna yang bisa ditulis dari bungkus kehidupan.

Saya menulis tentang Ahok bukan karena dia pemenang bungkus. Saya menulis tentang dia karena dia menjadi seorang pejuang - sejak sebelum pilkada sampai dia kalah dan bahkan di penjara. Dia terus dan tetap berjuang, berperang dengan nilai-nilai penuh kemuliaan. Bahkan dia kalah ketika berjuang dalam koridor kebenaran. Jadi ukuran buatnya adalah isi dan hakikat. Esensi. Lihatlah Ahok, ada integritas di sana. Ada kejujuran, ada keberanian, ada pengorbanan. Itu semua ada dalam dirinya yang kalah secara bungkus. Maka inspirasi dari manusia yang menekuni hidupnya dengan isi kehidupan tak akan pernah usai.
Kemenangan kemasan ada batas waktunya, hanya berbilang tahun. Namun kemenangan isi akan melintasi masa, bahkan ketika sosoknya telah tiada kelak. Manusia yang memenangkan hidupnya karena menjalaninya dengan isi kehidupan - padanya melekat sebuah sejarah. Bahkan penjarapun malah membuatnya besar. Lihatlah Bung Karno, lihatlah Hatta, lihatlah Mandela dan lainnya ...lalu Ahok juga ada dalam deretan itu.
Dan yang terpenting dari semuanya dari orang-orang seperti itu - banyak nilai, pesan dan makna kehidupan yang bisa dipelajari orang lain. Melihat orang-orang seperti mereka, kursi dan jabatan tak utama lagi. Air matanya bahkan menghapus luka orang lain.
Orang-orang itu tak bertanya lagi.Mungkin dia bingung dengan jawaban saya yang panjang lebar, atau tak paham - tapi bisa jadi dia tengah merenungkannya. Siapa tahu dia berubah.
Jadi kesetiaan saya menulis itu bukan soal Ahok-nya pribadi, tapi pada nilai-nilai kebenaran, prinsip hidup mulia, bahkan manajemen kehidupan yang unggul - yang terselip di berbagai orbit kehidupan yang dilakoninya. Betapa sayangnya jika semua itu saya lewatkan begitu saja.

Top Ad 728x90