By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.
Sebuah akun menampilkan fotonya yang diedit menjadi nudis. Tak mengeriap lagi kemarahan dalam dada saya, yang muncul justru kesedihan luarbiasa atas kondisi bangsa ini. Perempuan itu sendiri - salah satu 'Kartini' terbaik bangsa - tak akan terpengaruh sedikitpun atas gambar hoax itu. Saya juga yakin rakyat (Silent Majority) akan langsung menganggap itu sampah.
Saya terkesiap. Manusia yang tak bisa menghormati perempuan adalah manusia sampah. Dan dia yang dilecehkan itu tetaplah salah satu teladan terbaik sebagai 'perempuan'. Ya, sebab perempuan itu berasal dari kata 'empu' - yang artinya 'mulia". Dan dia layak menyandang kata itu.
Sebuah akun menampilkan fotonya yang diedit menjadi nudis. Tak mengeriap lagi kemarahan dalam dada saya, yang muncul justru kesedihan luarbiasa atas kondisi bangsa ini. Perempuan itu sendiri - salah satu 'Kartini' terbaik bangsa - tak akan terpengaruh sedikitpun atas gambar hoax itu. Saya juga yakin rakyat (Silent Majority) akan langsung menganggap itu sampah.
Saya terkesiap. Manusia yang tak bisa menghormati perempuan adalah manusia sampah. Dan dia yang dilecehkan itu tetaplah salah satu teladan terbaik sebagai 'perempuan'. Ya, sebab perempuan itu berasal dari kata 'empu' - yang artinya 'mulia". Dan dia layak menyandang kata itu.
Orang boleh menyindirnya dengan air mata sinetron, orang boleh menghinanya dengan gambar sampah nudis, orang boleh menyuruh anak-anak berpawai sembari berteriak untuk membunuh suaminya - kemuliaannya sebagai perempuan tak bisa dikaburkan. Sampah-sampah yang dilemparkan kepadanya justru berbalik kepada para pengirimnya. Lihatlah, perempuan ini - tetap dengan tulus mengucap : selamat menjalankan ibadah puasa.....
Perempuan ini tetap menjaga api tekad suaminya yang telah 'mewakafkan' diri bagi rakyat dan bangsa. Ia menjaga agar api itu tak padam. Ia memang menangis, tapi bukan untuk memadamkan api tekad itu. Air matanya untuk membasuh jiwa suaminya. Air matanya untuk menyegarkan jiwa anak-anaknya.
Ketegarannya memberi inspirasi.
Kesetiaannya memicu hormat.
Air matanya menarik cinta.
Senyumnya mengundang rindu.
Dan dukanya sebagai istri serta ibu - melahirkan kesetiaan rakyat yang menjaganya dengan baik. Perempuan ini seperti menjadi belahan jiwa rakyat. Dan rakyat akan selalu ada bersamanya.
Badai demi badai menyapu wajahnya, namun jiwanya tetap tak lepas memeluk suaminya. Badai demi badai menghempas tubuhnya, namun hatinya tetap mendekap rakyat yang selama ini setia bersama-sama. Badai demi badai itu, kelelahan sendiri menyapanya.
Perempuan itu tetap tak kehilangan senyum khasnya. Dia bernama Veronica. Dan senyum yang tak berubah itu tetap menunjukkan bahwa dia masih bernama Veronica. Senyum itu senyum ketegaran, senyum manis yang perkasa.
Perempuan itu masih bernama Veronica, istri lelaki rajawali yang perkasa. Badai demi badai semakin kelelahan menerpanya, sebab ia masih bernama Veronica dan akan selalu menjaga nama itu.
Selamat berjuang Veronica...
