By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.
Gambar Ahok di bawah ini bukan sekadar kenangan masa lalu. Bukan, sebab jika kita hanya menjadikannya kenangan - mungkin dia menjadi indah, tapi tak 'hidup'. Gambar Ahok sedang bekerja itu sejarah yang hidup - yang masih 'bekerja' sampai kini.
Ada berbagai pesan dari sejarah Ahok saat bekerja seperti itu. Ada pesan tentang kerja keras, kejujuran, ketulusan, melayani, keberanian dan lainnya. Dan pesan-pesan itu masih hidup, meski dia tak lagi bekerja dengan cara seperti dulu. Bahkan dalam penjara dia tetap 'bekerja' menyalurkan berbagai pesan yang sama. Lalu akhirmya bermuara pada sikapnya untuk : menerima dan mengampuni, membatalkan banding, memutuskan mundur, mengembalikan uang operasional.
Begitulah seharusnya kita memperlakukan masa lalu. Bukan berhenti pada kenangan, tapi sebagai sejarah dengan berbagai pesan mulianya. Lalu jika kita masih hidup, maka kita terus menjalankan berbagai pesan itu dengan cara yang berbeda. Itulah yang dilakukan Ahok, meski dia di dalam penjara. Itulah yang dilakukan Bung Karno, meski dia di dalam penjara. Itu pula sebabnya Bung Karno bisa berkata : Jasmerah - Jangan Sekalipun Meninggalkan Sejarah.
Bangsa ini sering bahkan selalu meninggalkan sejarah. Tak ada pesan-pesan mulia sejarah yang kita jalankan, yang kita jadikan nilai pedoman berperilaku. Maka kita suka mengulangi kesalahan yang sama. Masa lalu hanya jadi kenangan, yang bahkan sering berubah - dari kenangan indah menjadi buruk.
Kita bisa belajar dari Ahok. Bagaimana dia menghidupi sejarahnya, dan melanjutkannya dengan karya-karya lain di masa kini, di tempat yang berbeda, termasuk di tempat paling tak menyenangkan sekalipun.
Itu sebabnya dia terus bekerja dalam dukanya. Dan apa yang pernah dikatakannya : " Setiap lambaian dukungan anak bangsa adalah energi untuk membangun negeri tercinta. " - itu tetap menjiwainya, menemani hari-harinya.
Itu bukan hanya dulu, ketika masih jadi gubernur. Tapi juga kini, setelah dia disakiti dan dihempaskan sampai titik terendah. Dia tetap menatap lambaian tangan rakyat kepadanya, lalu memberinya energi untuk membangun negerinya - dari dalam. Maka lahirlah sikap-sikapnya yang mulia.
Ahok tak kehilangan cintanya pada rakyat dan negerinya ketika dia dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Lalu pada gilirannya - rakyat bukan hanya melambaikan tangannya - tapi juga cintanya.
Selamat bekerja di dalam sana Hok. Sepimu akan merajut maha karya bagi bangsa dan negerimu.
Sampai jumpa pada perjuangan selanjutnya...
Gambar Ahok di bawah ini bukan sekadar kenangan masa lalu. Bukan, sebab jika kita hanya menjadikannya kenangan - mungkin dia menjadi indah, tapi tak 'hidup'. Gambar Ahok sedang bekerja itu sejarah yang hidup - yang masih 'bekerja' sampai kini.
Ada berbagai pesan dari sejarah Ahok saat bekerja seperti itu. Ada pesan tentang kerja keras, kejujuran, ketulusan, melayani, keberanian dan lainnya. Dan pesan-pesan itu masih hidup, meski dia tak lagi bekerja dengan cara seperti dulu. Bahkan dalam penjara dia tetap 'bekerja' menyalurkan berbagai pesan yang sama. Lalu akhirmya bermuara pada sikapnya untuk : menerima dan mengampuni, membatalkan banding, memutuskan mundur, mengembalikan uang operasional.
Begitulah seharusnya kita memperlakukan masa lalu. Bukan berhenti pada kenangan, tapi sebagai sejarah dengan berbagai pesan mulianya. Lalu jika kita masih hidup, maka kita terus menjalankan berbagai pesan itu dengan cara yang berbeda. Itulah yang dilakukan Ahok, meski dia di dalam penjara. Itulah yang dilakukan Bung Karno, meski dia di dalam penjara. Itu pula sebabnya Bung Karno bisa berkata : Jasmerah - Jangan Sekalipun Meninggalkan Sejarah.
Bangsa ini sering bahkan selalu meninggalkan sejarah. Tak ada pesan-pesan mulia sejarah yang kita jalankan, yang kita jadikan nilai pedoman berperilaku. Maka kita suka mengulangi kesalahan yang sama. Masa lalu hanya jadi kenangan, yang bahkan sering berubah - dari kenangan indah menjadi buruk.
Kita bisa belajar dari Ahok. Bagaimana dia menghidupi sejarahnya, dan melanjutkannya dengan karya-karya lain di masa kini, di tempat yang berbeda, termasuk di tempat paling tak menyenangkan sekalipun.
Itu sebabnya dia terus bekerja dalam dukanya. Dan apa yang pernah dikatakannya : " Setiap lambaian dukungan anak bangsa adalah energi untuk membangun negeri tercinta. " - itu tetap menjiwainya, menemani hari-harinya.
Itu bukan hanya dulu, ketika masih jadi gubernur. Tapi juga kini, setelah dia disakiti dan dihempaskan sampai titik terendah. Dia tetap menatap lambaian tangan rakyat kepadanya, lalu memberinya energi untuk membangun negerinya - dari dalam. Maka lahirlah sikap-sikapnya yang mulia.
Ahok tak kehilangan cintanya pada rakyat dan negerinya ketika dia dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Lalu pada gilirannya - rakyat bukan hanya melambaikan tangannya - tapi juga cintanya.
Selamat bekerja di dalam sana Hok. Sepimu akan merajut maha karya bagi bangsa dan negerimu.
Sampai jumpa pada perjuangan selanjutnya...
