Herry Tjahjono- SURAT TERBUKA KETIGA KEPADA AHOK (Saya Ingin Menjaga Api Itu)

(Saya Ingin Menjaga Api Itu)
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.
Apa kabarmu di dalam sana ? Sudah hampir sebulan kamu di sana ya Hok. Banyak kejadian di luar sini, sepeninggalmu sebulan yang lalu. Saya menulis surat ketiga ini tentu karena beberapa alasan :
1) Tak sedikit yang mempertanyakan kenapa saya masih saja terus menulis tentang kamu, tapi pada saat yang sama banyak yang bilang…..
2) Agar saya terus menulis tentang kamu, sebab kata mereka - semakin jarang orang yang menulis tentang dirimu – jika dulunya mereka rajin menulis tentang dirimu, sekarang sudah tak melakukannya lagi……
3) Kedua hal di atas sesungguhnya yang selama ini membuat saya bertahan untuk setidaknya secara konsisten menulis tentang kamu. Kenapa ?

Bagi saya pribadi, menulis tentang dirimu – tentang seorang Ahok – bukanlah soal sosokmu pribadi belaka. Bukan. Saya menulis tentang kamu bukan karena fanatisme atau kultus individu terhadap kamu, sebab di mata saya – kamu tetap seorang manusia biasa yang penuh kelemahan. Tapi menulis tentang kamu adalah perjuangan atau upaya untuk menjaga “api Ahok” atau “ Ahok spirit”.
Seperti dulu pernah saya singgung, ketika kamu mengalami berbagai ketidakadilan dan kesewenangan - lalu mencapai puncaknya dengan penjeblosan dirimu ke dalam penjara – sesungguhnya pada saat itulah lahir “api Ahok” atau “Ahok spirit”. Dan momentum itu semakin bereskalasi ketika kamu dengan segenap kebesaran jiwa mengambil beberapa sikap altruis dan spiritual : menerima dan mengampuni, membatalkan pengajuan banding, mundur dari jabatan gubernur serta mengembalikan dana operasional gubernur yang sesungguhnya menjadi hakmu.
Rangkaian sikap altruis-spiritual itu memicu gelombang Revolusi Cinta di berbagai pelosok negeri dan bahkan luar negeri. Api Ahok itulah yang ingin saya jaga agar tak padam. Ahok spirit itulah yang ingin saya pelihara agar tak luruh. Kenapa ? Ahok spirit itu lahir sebagai simbol dan batu tapal perjuangan untuk menegakkan serta mengibarkan bendera : keadilan (vs ketidakadilan / kesewenang-wenangan seperti terjadi padamu), supremasi hukum (vs lancungnya hukum yang tumbang oleh hukum rimba dan gerombolan), integritas kepemimpinan nasional (vs kleptokrasi, maling Negara), keberagaman (vs napsu syahwat primordialisme yang mengagungkan SARA), demokrasi (vs democrazy), Pancasila (vs paham-paham yang ingin mencabiknya).
Dan tahukah kamu Hok ? Sampai hari ini – nyaris sebulan kamu di dalam sana – perjuangan dan peperangan itu semakin seru berlangsung. Salah satu ormas radikal dibubarkan (meski masih harus melalui jalur hukum yang mungkin akan bertele-tele). Persekusi berlangsung di mana-mana, namun kita bangkit Hok – dan bravo Polri – para polisi kita sekarang semakin tegas menghajar habis para pelakunya. Para koruptor – yang satu per satu terbuka kedoknya – mereka ternyata tak lebih dari srigala berbulu domba (dan misterinya adalah mereka ini hampir semua justru mereka yang pernah dan masih memburumu), NU sebagai ormas garda terdepan penjaga NKRI semakin siaga menjaga masyarakat, dan banyak lagi lainnya.
Kalau mau jujur – langsung ataupun tidak – itu semua karena api Ahok yang sudah dinyalakan. Maka saya merasa harus menjaga agar api itu tak padam. Bahkan terus berkobar semakin besar, lalu membakar hangus semua maling negara, srigala politik, dan lainnya.
Belakangan banyak sahabat yang mendorong saya untuk segera membukukan berbagai tulisan saya tentang kamu. Dalam setiap tulisan saya itu, saya memang selalu menyelipkan pesan-pesan tentang kebenaran dan kemuliaan yang terinspirasi sosok dan perjuanganmu.
Itu semua pesan yang perlu diwariskan kepada anak cucu, generasi selanjutnya – agar lahir selaksa benih “Ahok” baru dengan Ahok spirit yang mencintai dan membela negeri serta rakyat. Saya ingin bekerja sama dengan semua “jaringan sahabat FB” – baik dalam penerbitan buku tersebut ataupun berbagai kegiatan lanjutannya. Tujuannya agar semua terlibat menjaga api Ahok itu.
Hok, sepimu tak berlalu sia-sia. Dukamu tak mengalun tanpa makna. Pengorbananmu tak berlalu bersama angin. Bangsa dan rakyat sedang berubah, cepat atau lambat. Pasti. Apimu akan menjaga semangat rakyat (Silent Majority) untuk terus berjuang bersama Presiden RI melawan semua kebobrokan itu. Bahkan kini kami harus bersiaga bersama Presiden RI guna menghancurkan terorisme.
Hok, tak ada yang sia-sia dari air mata dan dukamu. Rindumu yang membuncah pada istri dan ketiga anakmu itu justru memantik gelora cinta rakyat untuk bersama keluargamu. Air mata istrimu justru membasuh jiwa-jiwa rakyat untuk menunggumu dengan setia, lalu kembali berjuang demi negeri tercinta.
Hok, bertahanlah. Sampai batas-batas yang memungkinkan – saya akan terus menulis tentang kamu, Vero atau anak-anakmu – semata-mata agar “api Ahok” itu terus menyala.
Hok, everything happens for a reason. Ada alasan mulia kenapa kamu harus mendekam di dalam sana, kenapa kamu harus menjalani sepi dan diammu sendiri, kenapa kamu masih harus menitikkan air matamu, kenapa kamu harus semakin berdialog dengan Tuhanmu, serta sejuta kenapa lainnya.
Alasan itu hanya satu : agar api itu terus menyala. Lalu bangsa ini akan belajar satu hal penting : bahwa hidup bukanlah soal meminta dan mengambil dari ibu pertiwi, tetapi soal memberi dan menyerahkan. Itulah api Ahok.
Kamu telah dipilih dan memilih jalan sunyi itu. Jalan kebenaran selalu sendiri dan sunyi. Itu sebabnya tak banyak orang mau dan sanggup melaluinya. Teruslah berjalan.Ini semua bukan hanya tentang kamu, tapi tentang perjuangan kita bersama.
Salam saya untukmu Hok, sampai jumpa pada perjuangan selanjutnya…
Herry Tjahjono

Top Ad 728x90