By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.
Adik Ahok yang bernama Fifi Letty Indra sempat menceritakan kenapa Ahok memilih tak mengajukan bandingnya. Fifi mengungkapkan bahwa pihak keluarga sendiri terharu karena Ahok lebih memikirkan orang banyak dalam soal pembatalan bandingnya. “ Demi keutuhan bangsa dan Negara, saya rela.” – kata Fifi menirukan Ahok.
Maka sungguh tak beralasan jika ada pihak-pihak yang picik mengatakan bahwa itu karena Ahok melakukan pencitraan atau strategi politik. Tapi yang paling menarik adalah ungkapan Ahok : “ Suatu hari nanti, mata hati nurani orang akan terbuka, saya melayani karena kasih. Itu panggilan saya untuk melayani walupun difitnah. Tetap melayani dengan kasih seperti Nemo, tetap berusaha menyelamatkan sekalipun tidak ada yang berterima kasih dan Nemo hampir mati.”
Ilustrasi tentang Nemo dari Ahok bermuara pada prinsip dan sikap hidupnya yang “melayani tanpa pertimbangan.” Melayani hanya untuk melayani. Dan Ahok memang melaksanakan panggilan hidupnya untuk melayani itu dengan tuntas. Dialah Nemo itu sendiri.
Mungkin karena prinsip Nemo inilah – melayani tanpa pertimbangan – yang membuat gunung cinta rakyat (Silent Majority) tak tergoyahkan. Ratusan surat terus berdatangan setiap hari kepada Ahok di penjara. Semuanya ungkapan rindu dan cinta.
Mungkin karena prinsip Nemo inilah – melayani hanya untuk melayani – yang membuat Sang Kehidupan tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, dan satu per satu orang yang menjahatinya tergelincir.
Entahlah. Yang jelas sebuah lintasan sejarah telah digoreskan oleh bangsa ini : tentang bagaimana menjadi pemimpin yang benar, bagaimana menjadi pelayan rakyat yang setia – dan terpenting dari semuanya : hidup itu adalah keberanian untuk menjadi manusia yang baik di mata orang lain dan di mata Tuhan. Itu saja. Itulah Ahok sang nemo….
