Herry Tjahjono - AKU INGIN MENDEKAP MEREKA

by
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

Sejak pawai anak-anak yang meneriakkan 'bunuh Ahok' itu, benak saya susah lepas dari anak-anak Ahok sendiri. Pertanyaan saya sederhana saja : " Bagaimana perasaan ketiga anak Ahok mendengar itu semua ?"

Adakah yang memikirkan - setidaknya untuk saat ini - jiwa mereka adalah jiwa anak-anak yang paling tertekan di republik ini. Ayahnya dinistakan dan dipenjara. Lalu harus melihat ibu yang mereka cintai menangis di layar kaca dengan hati remuk. Dan terakhir harus mendengar teriakan bunuh ayahnya - yang dilakukan oleh anak-anak sebaya mereka.

Bisakah kalian bayangkan jika itu terjadi pada anak kalian ? Siapa yang akan melindungi dan menjaga jiwa dan hati dari anak-anak Ahok ? Seolah republik ini memusuhi keluarga mereka. Seperti simpati saya pada anak-anak yang jiwanya diukir kebencian dan dengan fasih meneriakkan kata 'bunuh' - sebesar itu pula simpati saya untuk anak-anak Ahok.



Negeri ini telah gagal melindungi jiwa anak-anak kecil itu dari intimidasi. Rasa aman yang menjadi hak dasar jiwa-jiwa mungil itu tak bisa diberikan oleh republik ini.

Sebagai seorang ayah - saya tahu hati ketiga anak itu menangis pedih mendengar ancaman terhadap Ahok - ayah mereka itu. Saya paham - jika memungkinkan - mereka akan berontak untuk membela ayahnya. Anak mana yang rela ayahnya dinistakan dan diancam begitu rupa ?

Saya percaya mereka diam bukan karena takut - sebab jika menyangkut martabat dari orang tercinta - setiap orang akan mencadangkan hidupnya. Saya pernah merasakannya di kampung saya di Malang ketika masih kecil. Keluarga saya juga minoritas ganda yang hidup di sebuah gang padat. Saya bukan tukang berkelahi, saya bukan jagoan - namun ketika ayah yang saya cintai diancam dan terancam - saya melawan orang-orang itu dengan tongkat kakek saya. Dan saya tak mempedulikan diri saya lagi.

Namun ketiga anak Ahok tak berdaya karena negerinya tak sedang duduk di sisi mereka. Mereka tak melawan karena bangsanya tak sedang memeluk mereka.

Tapi tentu hati mereka merintih. Kemarin saya menulis bahwa hati anak-anak Ahok juga mengucur darah - dan kejadian demi kejadian memojokkan seperti inilah yang merobek hati mereka.

Ya bunda pertiwi, anak-anak Ahok itu adalah anak-anakmu juga. Mereka lahir dari rahimmu, dan tumbuh di tanahmu. Mereka mencintaimu sesuai ajaran dan teladan dari ayah bundanya. Tapi pada akhirnya tikaman demi tikaman terus menyayat hati mereka - yang seharusnya layak menjalani hari harinya penuh ceria, aman dan damai.

Bunda republik, tak inginkah kau memeluk mereka ? Tak tergerakkah hatimu untuk mendekap ketiganya, agar sejenak saja mereka merasakan damai ?

Jika kalian enggan, biarkan aku yang memeluk mereka. Setidaknya, aku akan biarkan hatiku memeluk ketiga anak yang manis dan baik itu dari sini. Agar sejenak mereka bisa merasa damai, dan setidaknya hati mereka bisa berbisik - bahwa mereka tak sendiri.

Aku besertamu anak-anak malang, hatiku bersama kalian dan mendekap kalian.

Herry Tjahjono - PENJARA, TEMPAT AHOK MENYEBARKAN KASIH

by

By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

Saya suka sekali status Anton DH Nugrahanto ini :

"Ahok ini narasi hidupnya sudah masuk ke alam profetik, apa yang ia katakan akan terungkap semua dikemudian waktu, dan siapa siapa yang jahat pada dirinya, akan terkena gelombang sejarah...

Orang menganggap omongannya kasar, tapi kekasarannya itu justru membuka rahasia rahasia alam dikemudian waktu atas nasib manusia yang ia serang sebagai pencoleng pencoleng anggaran negara..."
....................................................


Ya, sahabat.
Alam atau dimensi profetik - sebuah dimensi spiritual yang sesunggguhnya sangat dalam dan tinggi. Seperti dipercaya banyak orang, Gus Dur dulu berada pada dimensi profetik ini.



Ahok pada dimensi profetik ? Ya, kenapa tidak ? Sebagian besar perjalanan hidupnya sebagai 'pelayan rakyat' adalah cermin dari sikap manusia yang : bersih, jujur, berani karena benar, cinta dan melayani rakyat dan bangsa, dedikasi, integritas, kesetiaan dan pengorbaan. Itu semua sikap yang sangat spiritual, aktualisasi ajaran dan nilai agama.

Di tangan Ahok, melalui hidupnya - ajaran agama menjadi nyata. Pada sosoknya yang tidak sempurna justru ajaran agama (Kristen) menemukan narasi terbaiknya.

Bahkan puncak-puncak ajaran agamanya dijakankannya tuntas tanpa ragu. Salah satunya ketika ia memutuskan untuk membatalkan memori bandingnya dan mengatakan : " Saya sudah menerima dan mengampuni. "

Dan sesungguhnya tanpa sadar - detik itu juga alam profetik meliputi dirinya. Lalu ketika berlanjut pesannya kepada Djarot - sahabat terbaiknya : "Sudahlah, untuk menjaga situasi bulan puasa, supaya tidak ada pro-kontra, sudah saya mundur saja, nanti Mas Djarot yang nerusin’,” kata Djarot seraya menirukan ucapan Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (26/5/2017).

Dan kekuatan alam profetik sudah serta terus berjalan : apa yang ia katakan akan terungkap oleh waktu dan yang menjahati dirinya akan terkena gelombang sejarah.

Ini juga kata Anton DH Nugrahanto :
"Ahok ingin membantu warganya yang terkena penyakit kanker dengan pelayanan negara, lalu muncullah kasus sumber waras, dan orang ini (sekarang) kena operasi tangkap tangan..."

Dan memang, waktu ramai-ramainya kasus itu - Ahok sudah lebih dulu berkata terkait BPK yang menyerang dirinya soal kasus Sumber Waras :
"Ada yang tak beres."
Dan kini terbukti - tak lama setelah dia berkata : "Gusti Allah ora sare." - dari dalam penjara.

Banyak sekali kejadian "profetik" dalam ucapan dan sikap Ahok. Dan kelak, akan terbuka satu demi satu. Dan kelak, semua akan terhempas oleh gelombang sejarah. Semua akan terkena - termasuk mereka yang menjahati dirinya.

Lalu, apakah Ahok menghendaki itu semua ? Bukankah berarti dia ingin membalas ? Tidak. Bekerjanya kekuatan profetik berada di luar kendali dirinya. Kekuatan profetik itu digerakkan oleh alam dan kehidupan, bahkan oleh Sumber Kehidupan itu sendiri.

Lalu, kenapa Ahok di penjara ?

Ya, hampir semua 'manusia profetik' mengalami aniaya dan derita dalam hidupnya. Dan terkait Ahok, penjara adalah tempat di mana dia bisa menerapkan salah satu ajaran puncak agananya untuk "mengasihi musuhnya".

Namun dari sanalah alam dan kekuatan profetik bekerja. Memang aneh, di satu sisi ada penyebaran kasih - tapi di sisi lain ada kekuatan profetik yang terkesan 'hukuman' bagi mereka yang menjadi musuh. Itulah yang disebut 'Misteri Penyelenggaraan Illahi".

Dari kisah hidup seorang Ahok, kita memang bisa banyak belajar - kecuali mereka yang hatinya sudah dijajah oleh kebencian terhadap Ahok.

Herry Tjahjono - DOESN'T KILL YOU, MAKES YOU STRONGER

by

By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

Sebagian refrein lagu Kelly Clarkson berjudul 'Stronger' di bawah ini langsung mengingatkan saya pada Ahok, Veronica Tan dan anak-anaknya, Presiden Jokowi, atau dr. Fiera Lovita ketika masih 'sendirian' menghadapi berbagai gempuran di Solok - serta para 'lone rangers' bangsa lainnya. 

Berikut penggalan refrein lagu tersebut :

"Yang tak membunuhmu akan menguatkanmu
Berdirilah lebih tinggi
Tak berarti aku kesepian saat aku sendirian
Yang tak membunuhmu menjadikanmu petarung
Langkah kaki terasa lebih ringan...."
....................................................


Lagu itu sendiri berkisah tentang seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya, namun menjadi lebih kuat dan berdiri lebih tinggi, lebih tangguh sebagai petarung. Namun dalam konteks tulisan ini, saya mangadaptasinya - atau mengasosiasikannya dengan para 'petarung' bangsa yang sendirian dalam berjuang.

Ahok tentu contoh terdepan sebagai petarung sejati yang dihajar kanan kiri, atas bawah, muka belakang. Tak terkecuali istrinya yang perkasa, Veronica Tan. Tadi pagi saya masih sempat melihat ada akun yang menyerangnya dengan editan foto Vero yang dibuat nudis. Sayang saya tak sempat menyimpannya. Pun ketiga anaknya yang secara tak langsung tentu ikut merasakan berbagai gempuran yang menghajar orang tuanya - termasuk cercaan 'bunuh Ahok' oleh anak-anak sebaya mereka dalam sebuah pawai.

Dan pada muaranya - bangsa ini sendiri selalu digempur oleh berbagai badai - baik dari dalam atau dari luar. Korupsi, pengkhianatan, sampai terorisme dan upaya meluluhlantakkan NKRI serta Pancasila.

Sahabat, apa yang tak membunuhmu, akan membuatmu lebih kuat. Apa yang tak membunuhmu, membuatmu jadi petarung. Lihatlah Ahok, hari demi hari - ketika dia bertahan atas berbagai gempuran kehidupan yang ada dan ketika semua gempuran itu tak mampu 'membunuhnya' - ia menjadi 'Ahok' yang lebih kuat. Lihatlah presiden Jokowi, hari demi hari - ketika dia bertahan atas berbagai gempuran kehidupan yang ada dan ketika semua gempuran itu tak mampu 'membunuhnya' - ia menjadi 'Jokowi' yang lebih kuat.

Demikian juga seharusnya bangsa ini. Demikian juga seharusnya kita. Mari kita bertahan, berjuang - percayalah, kita akan lebih kuat. Kita akan berdiri lebih tinggi. Langkah kaki kita akan semakin ringan. Yang tak membunuh kita akan membuat kita lebih kuat.

Mari kita hadapi para maling negara, mari kita hadapi terorisme, mari kita hadapi radikalisme, mari kita hadapi rasisme, mari kita hadapi intoleransi, mari kita hadapi semua musuh negara, mari kita hadapi semua badai kehidupan kita masing-masing.

Ahok tetap tegak. Jokowi tetap tegak. Bangsa ini tetap tegak. Seperti kata Jendral Tito dalam akhir penjelasannya soal bom Kampung Melayu : " Indonesia sudah teruji berkali-kali dengan perisrtiwa bom, tetapi NKRI tetap berdiri dan kita yakin bisa mengalahkan mereka (terorisme)."

Jangan takut, jangan ketakutan. Mereka tertawa senang persis setan menyeringai jika melihat ketakutan kita. Bertahanlah, meski lutut gemetar oleh berbagai gempuran. Berdirilah, meski darah menetes dari segenap tubuh kita. Pada saatnya, semua akan membuat kita lebih kuat.

Sahabat : what doesn't kill you, makes you stronger. Jadilah 'Ahok-Ahok' baru. Jadilah 'Jokowi-Jokowi' baru. Jadilah 'Tito-Tito' baru. Jadilah 'Vero-Vero' baru. Dan bangsa ini akan baik-baik saja, lalu akan terus tersenyum dengan manisnya.

Herry Tjahjono - KESETIAAN ITU TAK PERNAH TERTUKAR

by
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

Mereka anak-anak rajawali. Mereka sudah diajar terbang sejak kecil, yang dilepas dari ketinggian dan dibiarkan meluncur deras ke bawah. Sesaat sebelum menghujam bumi, barulah sang induk menyambar mereka. Kembali naik ke atas, kembali ia dilepaskan - demikian seterusnya. Sejak kecil mereka sudah ditanamkan benih nyali rajawali. Badai demi badai biasa dihadapinya. Bahkan ketika ada anak-anak sebaya yang mengancam akan membunuh ayah mereka. Bahkan ketika ada akun biadab yang mengedit foto sang ibu menjadi nudis.

Mereka bukan anak-anak ayam, yang ketika angin lesus datang berputaran di atas tanah - membuat mereka lari berhamburan dan berlindung di balik sayap atau ketek induknya. Mereka bukan anak ayam yang hanya bisa ribut berlarian.



Tentu saja mereka rindu pada sang bapak, rajawali perkasa yang menggegerkan langit republik. Dan mereka ikut menghadapi badai demi badai yang melanda bapaknya. Rajawali perkasa itu kini mendekam di penjara, bukan untuk sebuah kesalahan yang memalukan dan menjijikkan, aib, maling atau pengkhianatan.

Bukan. Tapi untuk sebuah perjuangan demi langit dan bumi republik yang dicintainya. Demi lahirnya sebuah toleransi, keadilan, kesetaraan, demokrasi - juga keutuhan republik beserta nilai-nilai luhur yang mengikatnya. Maka sel sempit itu dimasuki oleh sang rajawali perkasa dengan penuh kesadaran, kesiapan, kerelaan - bukan demi apapun, kecuali demi republik tercinta.

Maka sang rajawali perkasa berkata lirih namun gagah : " Saya sudah menerima dan mengampuni. Saya membatalkan banding saya. Saya mundur demi ketenangan bangsa dan jangan ada pro-kontra di bulan puasa."

Semuanya adalah pernyataan kemenangan, bukan kekalahan. Semuanya pernyataan pemenang, bukan pecundang. Semuanya pernyataan spiritual yang dalam. Sebab dia berhasil menguasai dan mengendalikan hati dan jiwanya di dalam sana. Dia menjalani puasa terdalam dan tirakat rohani di dalam sana. Hening.

Kalaupun ada yang sulit ditahannya sebagai manusia biasa adalah kerinduan-kerinduan sebagai seorang ayah yang sebelumnya tak pernah absen memeluk anak-anaknya penuh cinta. Atau kerinduan-kerinduan mendekap sang istri belahan jiwanya penuh kasih. Namun kerinduan itu ditepisnya lewat sebuah kebanggaaan pada orang-orang yang dicintainya itu : anak-anak rajawali dan induk rajawali.

Kerinduan-kerinduan itu memang saling membuncah, bahkan bukan hanya antara mereka keluarga rajawali itu - tapi juga rakyat yang menunggunya penuh kesetiaan. Rakyat tak akan pernah menggeser kesetiannya, sebab dia di dalam sana telah membuktikan kesetiaannya tanpa syarat.

Kesetiaannya tak pernah pudar, bagi republik, bagi presidennya, bagi sahabatnya, bagi keluarga serta rakyatnya - dan terutama bagi Tuhannya.

Kesetiaannya tak pernah tertukar, itu sebabnya dia dirindukan dan dicintai.

Herry Tjahjono - PEREMPUAN ITU MASIH BERNAMA VERONICA

by
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

Sebuah akun menampilkan fotonya yang diedit menjadi nudis. Tak mengeriap lagi kemarahan dalam dada saya, yang muncul justru kesedihan luarbiasa atas kondisi bangsa ini. Perempuan itu sendiri - salah satu 'Kartini' terbaik bangsa - tak akan terpengaruh sedikitpun atas gambar hoax itu. Saya juga yakin rakyat (Silent Majority) akan langsung menganggap itu sampah.

Saya terkesiap. Manusia yang tak bisa menghormati perempuan adalah manusia sampah. Dan dia yang dilecehkan itu tetaplah salah satu teladan terbaik sebagai 'perempuan'. Ya, sebab perempuan itu berasal dari kata 'empu' - yang artinya 'mulia". Dan dia layak menyandang kata itu.



Orang boleh menyindirnya dengan air mata sinetron, orang boleh menghinanya dengan gambar sampah nudis, orang boleh menyuruh anak-anak berpawai sembari berteriak untuk membunuh suaminya - kemuliaannya sebagai perempuan tak bisa dikaburkan. Sampah-sampah yang dilemparkan kepadanya justru berbalik kepada para pengirimnya. Lihatlah, perempuan ini - tetap dengan tulus mengucap : selamat menjalankan ibadah puasa.....

Perempuan ini tetap menjaga api tekad suaminya yang telah 'mewakafkan' diri bagi rakyat dan bangsa. Ia menjaga agar api itu tak padam. Ia memang menangis, tapi bukan untuk memadamkan api tekad itu. Air matanya untuk membasuh jiwa suaminya. Air matanya untuk menyegarkan jiwa anak-anaknya.

Ketegarannya memberi inspirasi.
Kesetiaannya memicu hormat.
Air matanya menarik cinta.
Senyumnya mengundang rindu.

Dan dukanya sebagai istri serta ibu - melahirkan kesetiaan rakyat yang menjaganya dengan baik. Perempuan ini seperti menjadi belahan jiwa rakyat. Dan rakyat akan selalu ada bersamanya.

Badai demi badai menyapu wajahnya, namun jiwanya tetap tak lepas memeluk suaminya. Badai demi badai menghempas tubuhnya, namun hatinya tetap mendekap rakyat yang selama ini setia bersama-sama. Badai demi badai itu, kelelahan sendiri menyapanya.

Perempuan itu tetap tak kehilangan senyum khasnya. Dia bernama Veronica. Dan senyum yang tak berubah itu tetap menunjukkan bahwa dia masih bernama Veronica. Senyum itu senyum ketegaran, senyum manis yang perkasa.

Perempuan itu masih bernama Veronica, istri lelaki rajawali yang perkasa. Badai demi badai semakin kelelahan menerpanya, sebab ia masih bernama Veronica dan akan selalu menjaga nama itu.

Selamat berjuang Veronica...

Herry Tjahjono - AIR MATA TAK SELALU JADI TANGIS

by

By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

Berikut adalah adegan 'Ini Talkshow' berbulan-bulan lalu. Adegan ketika Sule meminta Vero memberikan pesan kepada Ahok - lalu Vero menjawab lirih : 'Jalan terus..' 

Waktu itu - Ahok memandang istrinya sepenuh hati - lalu menjawab lirih pula :
'Bertahanlah...'

Nampak sekali waktu itu ekspresi Ahok yang menahan perasaan ketika mengucapkan sepatah kata jawaban untuk istrinya itu.
Hanya karena di depan kamera saja yang membuatnya bertahan agar air matanya tak menetes turun.

Sepatah kata jawaban itu menyiratkan berbagai makna : menguatkan hati istri yang dikasihinya namun selalu diajaknya melewati jalanan keras berbatu. Di sisi lain, sepatah kata itu juga ungkapan hati seorang suami yang telah mempercayakan dan menyerahkan hatinya pada sang istri. 


Dan hati itu mendesah lirih : Aku membutuhkanmu saat ini.

Dan benarlah - 'saat ini' tak lain juga 'sekarang', ketika Ahok harus menjalani hari-harinya sendirian di penjara. "Bertahanlah - jawaban Ahok itu juga untuk sekarang, ketika Vero harus memayungi hari-hari ketiga anak mereka tanpa sang suami - lelaki rajawali itu.

Dan ketika Ahok terus berjuang dalam diamnya, Vero juga terus melangkah - meniti hari demi hari bersama ketiga anaknya. Vero di luar, Ahok di dalam. Namun mereka tetap bertemu dalam ruang hati yang sama.

"Jalan terus...." kata Vero. "Bertahanlah..." kata Ahok. Bukankah dua jawaban itu muara dari dua hati anak manusia yang dipersatukan oleh kehidupan ? Hidup haruslah "jalan terus" meskipun jalanan terjal di depan. Namun hidup juga soal "bertahan" tatkala badai terbesar datang menyapu.

Ahok dan Vero akan selalu "jalan terus" dan "bertahan" - sampai badai kehidupan kelelahan sendiri mengganggu mereka, sampai mereka tiba di tujuan kelak.

Keduanya juga akan "jalan terus" dan "bertahan" bersama rakyat - yang hatinya setia menunggu mereka. Nikmat apalagi yang mau didustakan ? Sel penjara soal dimensi ruang, namun cinta dari banyak orang menjebol keterbatasan itu.

"Jalan terus..." kata Vero di luar sana.
"Bertahanlah.." jawab Ahok di dalam sana.

Maka badai tak akan pernah mampu mengganggu cinta dua anak manusia. Badai juga tak akan pernah mampu mengganggu cinta rakyat dengan pemimpinnya.

Lalu.....

Air mata tak selalu jadi tangis.
Perpisahan tak selalu jadi sepi.

Herry Tjahjono - AHOK ITU SEJARAH, BUKAN KENANGAN

by
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

Gambar Ahok di bawah ini bukan sekadar kenangan masa lalu. Bukan, sebab jika kita hanya menjadikannya kenangan - mungkin dia menjadi indah, tapi tak 'hidup'. Gambar Ahok sedang bekerja itu sejarah yang hidup - yang masih 'bekerja' sampai kini. 

Ada berbagai pesan dari sejarah Ahok saat bekerja seperti itu. Ada pesan tentang kerja keras, kejujuran, ketulusan, melayani, keberanian dan lainnya. Dan pesan-pesan itu masih hidup, meski dia tak lagi bekerja dengan cara seperti dulu. Bahkan dalam penjara dia tetap 'bekerja' menyalurkan berbagai pesan yang sama. Lalu akhirmya bermuara pada sikapnya untuk : menerima dan mengampuni, membatalkan banding, memutuskan mundur, mengembalikan uang operasional. 




Begitulah seharusnya kita memperlakukan masa lalu. Bukan berhenti pada kenangan, tapi sebagai sejarah dengan berbagai pesan mulianya. Lalu jika kita masih hidup, maka kita terus menjalankan berbagai pesan itu dengan cara yang berbeda. Itulah yang dilakukan Ahok, meski dia di dalam penjara. Itulah yang dilakukan Bung Karno, meski dia di dalam penjara. Itu pula sebabnya Bung Karno bisa berkata : Jasmerah - Jangan Sekalipun Meninggalkan Sejarah.

Bangsa ini sering bahkan selalu meninggalkan sejarah. Tak ada pesan-pesan mulia sejarah yang kita jalankan, yang kita jadikan nilai pedoman berperilaku. Maka kita suka mengulangi kesalahan yang sama. Masa lalu hanya jadi kenangan, yang bahkan sering berubah - dari kenangan indah menjadi buruk.

Kita bisa belajar dari Ahok. Bagaimana dia menghidupi sejarahnya, dan melanjutkannya dengan karya-karya lain di masa kini, di tempat yang berbeda, termasuk di tempat paling tak menyenangkan sekalipun.

Itu sebabnya dia terus bekerja dalam dukanya. Dan apa yang pernah dikatakannya : " Setiap lambaian dukungan anak bangsa adalah energi untuk membangun negeri tercinta. " - itu tetap menjiwainya, menemani hari-harinya.

Itu bukan hanya dulu, ketika masih jadi gubernur. Tapi juga kini, setelah dia disakiti dan dihempaskan sampai titik terendah. Dia tetap menatap lambaian tangan rakyat kepadanya, lalu memberinya energi untuk membangun negerinya - dari dalam. Maka lahirlah sikap-sikapnya yang mulia.

Ahok tak kehilangan cintanya pada rakyat dan negerinya ketika dia dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Lalu pada gilirannya - rakyat bukan hanya melambaikan tangannya - tapi juga cintanya.

Selamat bekerja di dalam sana Hok. Sepimu akan merajut maha karya bagi bangsa dan negerimu.

Sampai jumpa pada perjuangan selanjutnya...

Herry Tjahjono - DWITUNGGAL YANG MEMELUK HATI

by
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

Keduanya contoh 'dwitunggal' sempurna untuk masa kini. Dwitunggal itu justru tidak harus sama dan seragam. Dwitunggal yang kokoh itu adalah refleksi keberagaman. Ahok, Cina-Kristen dan Djarot, Jawa-Islam. 

Lalu keduanya menyatukan hati, saling menautkan tangan bekerja keras demi rakyat. Tangan yang bertaut itu sekaligus memegang erat 'Bhineka Tunggal Ika' di kaki burung perkasa 'Garuda Pancasila'.

Baju mereka berbeda, kulit mereka berbeda, mata mereka berbeda - namun darah mereka sama merah dan tulang mereka sama putih - merekatkan hati yang satu : hati NKRI.



Itu sebabnya meski terpisah jarak dan sel ketidakadilan - mereka berdua tetap dwitunggal yang saling setia satu sama lain. Kesetiaan yang membuat air mata Djarot menetes ketika sahabatnya dilukai. Demikian juga sebaliknya, ketika Ahok ingin sahabatnya Djarot bekerja lebih lancar bebas hambatan - ia mundur dari jabatan gubernur.

Namun kesetiaan mereka bukan hanya sebagai pribadi sahabat. Kesetiaan mereka juga kesetiaan dwitunggal : pada rakyat dan bangsa.

Tawa, air mata, kesakitan, duka, hiruk pikuk dan sepi sudah mereka lewati bersama. Dwitunggal Ahok-Djarot itu akan jadi sejarah yang ditulis dengan tinta emas, bukan hanya kenangan indah yang mungkin akan menguap dari ingatan rakyat.

Dwitunggal Ahok-Djarot, tonggak perubahan kepemimpinan di negeri ini - dan kita wajib menjaga nilai-nilai mulia yang diwariskannya.

Dan yang terakhir, kita juga perlu belajar : bagaimana mereka menerima memeluk satu sama lain hanya sebagai sesama manusia - titik. That's what friends are for...

Dwitunggal yang memeluk hati rakyat...

Herry Tjahjono - JANGAN MENANGIS LAGI, VERO

by
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

Puncak-puncak kesakitan dan penderitaan sudah dilewati, maka gantilah air mata kepedihan itu untuk membasuh jiwa. 

Suamimu sudah dihempaskan sampai titik terendah, tak ada titik lain yang lebih rendah. Maka gantilah air mata kepedihan itu untuk membersihkan hati.

Kehidupan yang kalian jalani - khususnya suamimu - tak banyak dilalui orang lain. Itu adalah jalan sunyi. Sendiri di jalan itu. Tak banyak orang mau dan sanggup di jalan itu. Namun dalam kesunyian dan kesendirian itu sesungguhnya terselip gemuruh doa dan cinta dari banyak orang yang pernah dibela dan dilayani oleh suamimu.



Bahkan sesungguhnya kehidupan sedang meminta kerelaan suamimu, dirimu serta anak-anakmu untuk berkorban bagi tanah yang kalian pijak, bagi rahim pertiwi yang melahirkan kalian. Maka sesungguhnya kalian adalah yang terpilih, sebab kehidupan tahu - tak banyak yang rela dan sanggup melewati jalan sunyi seperti kalian.

Kehidupan juga sedang mengajak segenap anak negeri ini belajar dari kalian. Bahwa hidup bukan soal meminta dan mengambil dari ibu pertiwi, melainkan memberi dan menyerahkan.

Maka gantilah air mata kepedihan itu menjadi air mata syukur. Sebagai perempuan biasa, tentu tak mudah menghapus duka, pedih dan rindu itu. Tapi ingatlah, segenap anak negeri yang mengirimkan gemuruh doa dan cinta menatapmu sebagai perempuan, istri dan ibu yang perkasa dan mulia.

Tak sadarkah dirimu bahwa keputusan mulia suamimu untuk mengampuni, mundur dan mengembalikan uang operasional haknya - separuh karena dirimu ? Sebab kamu adalah belahan jiwanya. Dan dalam diam, sepi dan dukanya - kepada belahan jiwa itulah dia berdialog.

Tetaplah menjadi Vero yang dirindukan Ahok suamimu. Tetaplah menjadi Vero yang ditatap sekian banyak rakyat sembari mengirimkan gemuruh doa dan cinta. Tetaplah menjadi Vero sebagai simbol perempuan perkasa yang tanpa sadar sering membangkitkan banyak perempuan lain dari keterpurukannya.

Jangan menangis lagi, Vero...

Herry Tjahjono- SURAT TERBUKA KETIGA KEPADA AHOK (Saya Ingin Menjaga Api Itu)

by
(Saya Ingin Menjaga Api Itu)
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.
Apa kabarmu di dalam sana ? Sudah hampir sebulan kamu di sana ya Hok. Banyak kejadian di luar sini, sepeninggalmu sebulan yang lalu. Saya menulis surat ketiga ini tentu karena beberapa alasan :
1) Tak sedikit yang mempertanyakan kenapa saya masih saja terus menulis tentang kamu, tapi pada saat yang sama banyak yang bilang…..
2) Agar saya terus menulis tentang kamu, sebab kata mereka - semakin jarang orang yang menulis tentang dirimu – jika dulunya mereka rajin menulis tentang dirimu, sekarang sudah tak melakukannya lagi……
3) Kedua hal di atas sesungguhnya yang selama ini membuat saya bertahan untuk setidaknya secara konsisten menulis tentang kamu. Kenapa ?

Bagi saya pribadi, menulis tentang dirimu – tentang seorang Ahok – bukanlah soal sosokmu pribadi belaka. Bukan. Saya menulis tentang kamu bukan karena fanatisme atau kultus individu terhadap kamu, sebab di mata saya – kamu tetap seorang manusia biasa yang penuh kelemahan. Tapi menulis tentang kamu adalah perjuangan atau upaya untuk menjaga “api Ahok” atau “ Ahok spirit”.
Seperti dulu pernah saya singgung, ketika kamu mengalami berbagai ketidakadilan dan kesewenangan - lalu mencapai puncaknya dengan penjeblosan dirimu ke dalam penjara – sesungguhnya pada saat itulah lahir “api Ahok” atau “Ahok spirit”. Dan momentum itu semakin bereskalasi ketika kamu dengan segenap kebesaran jiwa mengambil beberapa sikap altruis dan spiritual : menerima dan mengampuni, membatalkan pengajuan banding, mundur dari jabatan gubernur serta mengembalikan dana operasional gubernur yang sesungguhnya menjadi hakmu.
Rangkaian sikap altruis-spiritual itu memicu gelombang Revolusi Cinta di berbagai pelosok negeri dan bahkan luar negeri. Api Ahok itulah yang ingin saya jaga agar tak padam. Ahok spirit itulah yang ingin saya pelihara agar tak luruh. Kenapa ? Ahok spirit itu lahir sebagai simbol dan batu tapal perjuangan untuk menegakkan serta mengibarkan bendera : keadilan (vs ketidakadilan / kesewenang-wenangan seperti terjadi padamu), supremasi hukum (vs lancungnya hukum yang tumbang oleh hukum rimba dan gerombolan), integritas kepemimpinan nasional (vs kleptokrasi, maling Negara), keberagaman (vs napsu syahwat primordialisme yang mengagungkan SARA), demokrasi (vs democrazy), Pancasila (vs paham-paham yang ingin mencabiknya).
Dan tahukah kamu Hok ? Sampai hari ini – nyaris sebulan kamu di dalam sana – perjuangan dan peperangan itu semakin seru berlangsung. Salah satu ormas radikal dibubarkan (meski masih harus melalui jalur hukum yang mungkin akan bertele-tele). Persekusi berlangsung di mana-mana, namun kita bangkit Hok – dan bravo Polri – para polisi kita sekarang semakin tegas menghajar habis para pelakunya. Para koruptor – yang satu per satu terbuka kedoknya – mereka ternyata tak lebih dari srigala berbulu domba (dan misterinya adalah mereka ini hampir semua justru mereka yang pernah dan masih memburumu), NU sebagai ormas garda terdepan penjaga NKRI semakin siaga menjaga masyarakat, dan banyak lagi lainnya.
Kalau mau jujur – langsung ataupun tidak – itu semua karena api Ahok yang sudah dinyalakan. Maka saya merasa harus menjaga agar api itu tak padam. Bahkan terus berkobar semakin besar, lalu membakar hangus semua maling negara, srigala politik, dan lainnya.
Belakangan banyak sahabat yang mendorong saya untuk segera membukukan berbagai tulisan saya tentang kamu. Dalam setiap tulisan saya itu, saya memang selalu menyelipkan pesan-pesan tentang kebenaran dan kemuliaan yang terinspirasi sosok dan perjuanganmu.
Itu semua pesan yang perlu diwariskan kepada anak cucu, generasi selanjutnya – agar lahir selaksa benih “Ahok” baru dengan Ahok spirit yang mencintai dan membela negeri serta rakyat. Saya ingin bekerja sama dengan semua “jaringan sahabat FB” – baik dalam penerbitan buku tersebut ataupun berbagai kegiatan lanjutannya. Tujuannya agar semua terlibat menjaga api Ahok itu.
Hok, sepimu tak berlalu sia-sia. Dukamu tak mengalun tanpa makna. Pengorbananmu tak berlalu bersama angin. Bangsa dan rakyat sedang berubah, cepat atau lambat. Pasti. Apimu akan menjaga semangat rakyat (Silent Majority) untuk terus berjuang bersama Presiden RI melawan semua kebobrokan itu. Bahkan kini kami harus bersiaga bersama Presiden RI guna menghancurkan terorisme.
Hok, tak ada yang sia-sia dari air mata dan dukamu. Rindumu yang membuncah pada istri dan ketiga anakmu itu justru memantik gelora cinta rakyat untuk bersama keluargamu. Air mata istrimu justru membasuh jiwa-jiwa rakyat untuk menunggumu dengan setia, lalu kembali berjuang demi negeri tercinta.
Hok, bertahanlah. Sampai batas-batas yang memungkinkan – saya akan terus menulis tentang kamu, Vero atau anak-anakmu – semata-mata agar “api Ahok” itu terus menyala.
Hok, everything happens for a reason. Ada alasan mulia kenapa kamu harus mendekam di dalam sana, kenapa kamu harus menjalani sepi dan diammu sendiri, kenapa kamu masih harus menitikkan air matamu, kenapa kamu harus semakin berdialog dengan Tuhanmu, serta sejuta kenapa lainnya.
Alasan itu hanya satu : agar api itu terus menyala. Lalu bangsa ini akan belajar satu hal penting : bahwa hidup bukanlah soal meminta dan mengambil dari ibu pertiwi, tetapi soal memberi dan menyerahkan. Itulah api Ahok.
Kamu telah dipilih dan memilih jalan sunyi itu. Jalan kebenaran selalu sendiri dan sunyi. Itu sebabnya tak banyak orang mau dan sanggup melaluinya. Teruslah berjalan.Ini semua bukan hanya tentang kamu, tapi tentang perjuangan kita bersama.
Salam saya untukmu Hok, sampai jumpa pada perjuangan selanjutnya…
Herry Tjahjono

Herry Tjahjono - MELAYANI TANPA PERTIMBANGAN

by
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

Adik Ahok yang bernama Fifi Letty Indra sempat menceritakan kenapa Ahok memilih tak mengajukan bandingnya. Fifi mengungkapkan bahwa pihak keluarga sendiri terharu karena Ahok lebih memikirkan orang banyak dalam soal pembatalan bandingnya. “ Demi keutuhan bangsa dan Negara, saya rela.” – kata Fifi menirukan Ahok.
Maka sungguh tak beralasan jika ada pihak-pihak yang picik mengatakan bahwa itu karena Ahok melakukan pencitraan atau strategi politik. Tapi yang paling menarik adalah ungkapan Ahok : “ Suatu hari nanti, mata hati nurani orang akan terbuka, saya melayani karena kasih. Itu panggilan saya untuk melayani walupun difitnah. Tetap melayani dengan kasih seperti Nemo, tetap berusaha menyelamatkan sekalipun tidak ada yang berterima kasih dan Nemo hampir mati.”

Ilustrasi tentang Nemo dari Ahok bermuara pada prinsip dan sikap hidupnya yang “melayani tanpa pertimbangan.” Melayani hanya untuk melayani. Dan Ahok memang melaksanakan panggilan hidupnya untuk melayani itu dengan tuntas. Dialah Nemo itu sendiri.
Mungkin karena prinsip Nemo inilah – melayani tanpa pertimbangan – yang membuat gunung cinta rakyat (Silent Majority) tak tergoyahkan. Ratusan surat terus berdatangan setiap hari kepada Ahok di penjara. Semuanya ungkapan rindu dan cinta.
Mungkin karena prinsip Nemo inilah – melayani hanya untuk melayani – yang membuat Sang Kehidupan tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, dan satu per satu orang yang menjahatinya tergelincir.
Entahlah. Yang jelas sebuah lintasan sejarah telah digoreskan oleh bangsa ini : tentang bagaimana menjadi pemimpin yang benar, bagaimana menjadi pelayan rakyat yang setia – dan terpenting dari semuanya : hidup itu adalah keberanian untuk menjadi manusia yang baik di mata orang lain dan di mata Tuhan. Itu saja. Itulah Ahok sang nemo….

Herry Tjahjono - AHOK ITU SUDAH HABIS, TAHU...

by
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.
Hari ini - masih ada lagi beberapa orang yang memburu saya dengan pertanyaan : " Anda masih saja menulis tentang Ahok. Dia sudah habis, sudah selesai tahu..."
Saya jawab :
Jika ukuran yang dipakai adalah bungkus kehidupan, kemasan kehidupan - maka Ahok untuk saat ini sudah habis. Sebab kursi DKI 1, jabatan gubernur adalah bungkus atau kemasan kehidupan. Sensasi. Landasannya adalah kemenangan. Dan seandainya Ahok menang dan ukuran bungkus ini yang dipakai - mungkin saya tak akan menulisnya lagi. Tak banyak hal berguna yang bisa ditulis dari bungkus kehidupan.

Saya menulis tentang Ahok bukan karena dia pemenang bungkus. Saya menulis tentang dia karena dia menjadi seorang pejuang - sejak sebelum pilkada sampai dia kalah dan bahkan di penjara. Dia terus dan tetap berjuang, berperang dengan nilai-nilai penuh kemuliaan. Bahkan dia kalah ketika berjuang dalam koridor kebenaran. Jadi ukuran buatnya adalah isi dan hakikat. Esensi. Lihatlah Ahok, ada integritas di sana. Ada kejujuran, ada keberanian, ada pengorbanan. Itu semua ada dalam dirinya yang kalah secara bungkus. Maka inspirasi dari manusia yang menekuni hidupnya dengan isi kehidupan tak akan pernah usai.
Kemenangan kemasan ada batas waktunya, hanya berbilang tahun. Namun kemenangan isi akan melintasi masa, bahkan ketika sosoknya telah tiada kelak. Manusia yang memenangkan hidupnya karena menjalaninya dengan isi kehidupan - padanya melekat sebuah sejarah. Bahkan penjarapun malah membuatnya besar. Lihatlah Bung Karno, lihatlah Hatta, lihatlah Mandela dan lainnya ...lalu Ahok juga ada dalam deretan itu.
Dan yang terpenting dari semuanya dari orang-orang seperti itu - banyak nilai, pesan dan makna kehidupan yang bisa dipelajari orang lain. Melihat orang-orang seperti mereka, kursi dan jabatan tak utama lagi. Air matanya bahkan menghapus luka orang lain.
Orang-orang itu tak bertanya lagi.Mungkin dia bingung dengan jawaban saya yang panjang lebar, atau tak paham - tapi bisa jadi dia tengah merenungkannya. Siapa tahu dia berubah.
Jadi kesetiaan saya menulis itu bukan soal Ahok-nya pribadi, tapi pada nilai-nilai kebenaran, prinsip hidup mulia, bahkan manajemen kehidupan yang unggul - yang terselip di berbagai orbit kehidupan yang dilakoninya. Betapa sayangnya jika semua itu saya lewatkan begitu saja.

Herry Tjahjono - BERLIAN UNTUK JAKARTA

by
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.
Ibu kota menyingkirkannya, namun guratan tangan karyanya tetap memberinya hadiah terbaik. RPTRA, menjadi bagian dari 15 inovasi dunia. Tentu saja karya dan hadiah indah ini tetap buruk di mata mereka yang hatinya diliputi kebencian.
Saya pernah menulis status : Jakarta Membuang Sebutir Berlian yang di-share belasan ribu sahabat di hari kekalahan Ahok dalam pilkada putaran II. RPTRA hanyalah salah satu bukti 'keberlianan' Ahok. RPTRA adalah karya berlian.
Bagaimana Ahok bisa melahirkan karya berlian ? Hanya dengan ketulusan dan keberanian memberikan yang terbaik bagi warganya - meski untuk itu ia harus mengenyampingkan semua resiko paling berbahaya yang harus dihadapinya.

Masih banyak karya berlian lainnya. Dan entahlah, apakah Ahok sempat membaca dan mengetahui apresiasi atas karya berliannya atau tidak ?
Dan saya tahu dia tak akan terlalu peduli dengan itu semua, sebab sampai detik terakhir dia harus tersingkirpun - kepentingan dan kebahagiaan warganya tetap menjadi nomer satu.
Bisa jadi penghargaan semacam ini sedikit menepis sepi dan dukanya. Bisa juga tidak. Tapi yang jelas, Ahok akan dikenang sebagai pelayan yang menempatkan rakyat di atas segalanya. Bahkan semua kesempatan untuk memperbaiki 'nasib' ditepiskannya - membatalkan banding, mundur sebagai gubernur - semua demi ketenangan dan kedamaian.
Di dalam sana - dalam hari-hari yang sepi - hati lelaki itu tak pernah surut ingin memberikan hadiah-hadiah terbaik bagi Jakarta - meski hanya lewat doa, meski kota ini telah menyayatnya dengan pedih.

Herry Tjahjono, MAAF JUPE, AKU TAK BISA MENGANTARMU..

by
By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.
Berikut postingan versi instagram yang pernah dibuat almarhumah Jupe :
"Pak ahok... selagi jupe masih hidup.. Jupe akan tagih rs ini berdiri tegak.. krn tugas jupe memastikan bapak ngak omdo ... "
"Pak sebagai pasien kanker jupe merasa bapak bener2 perhatian sama kita... pak tolong bapak harus menang supaya rumah sakit ini bener2 terwujud.(amin)pak ."
"Jupe biasa nya ngak terlalu in to politik. tapi krn suara jupe masih di dengar.. dan insya Allah bermanfaat.. semoga tweet jupe ini... bener2 bapak wujudkan.."
"Karena kami orang2 yg lagi berjuang hidup dari cobaan ini.. berharap.. banyak akan kemajuan rs di indonesia.. tidak hanya dari segi tempat tapi alat2 nya.. dan para dokternya.. yg bersaja... semoga saja BPJS bener2 adil terhadap pasien dan RS dan dokter2 nya.. ok semangat pak ahok kalo TUHAN BERKENDAK TIDAK ADA YG TIDAK MUNGKIN ... cahyoo cemungut. #jeritanhatipejuangkanker #bpjs #ahok #hospylife @basukibtp."

.........................................
Ahok selalu ada dalam hati Jupe. Postingan Jupe itu menunjukkan kedekatannya dengan Ahok. Ada harapan besar yang digantungkan pada Ahok. Jupe tahu kepada siapa dia bisa menitipkan harapannya.
Namun kehidupan tak pernah bisa ditebak alurnya. Kini Jupe pergi - dengan selarik harapannya - meninggalkan Ahok, 'gubernur' yang dikagumi dan disayanginya. Meninggalkan Ahok - dalam sepi, dalam diam dan dalam dukanya yang baru : perginya Jupe sang sahabat.
Tapi Jupe pergi dengan kenangan indahnya tentang seorang lelaki baik, gubernur hebat dan sahabat yang menyayanginya - yang dipanggilnya 'pak Ahok'. Dari Ahok dan Jupe kita belajar, betapa cinta dan kesetiaan sesama manusia itu akan dibawa sampai pada keabadian - tanpa memandang muka, kulit, bahkan agama.
Dan Ahok, selalu menggenggam harapan Jupe dalam hatinya. Ahok tak akan pernah melepaskan harapan yang dititpkan sahabatnya itu - meski dia hanya bisa mendekapnya dalam sepi dan dukanya yang baru. Setangkup doa dikirimkannya dari kejauhan sembari mengucapkan sepenggal kalimat perpisahan :
" Selamat jalan Jupe sahabatku, maafkan aku tak bisa mengantarmu. "

Top Ad 728x90